Tuesday, February 12, 2008
sajak-sajak
kisah raksasa seribu wajah
yang selalu berhasil membangunkan
raksasa seribu wajah adalah sinta
cukup dengan menguarkan aroma
perempuan berwajah tanpa noda
lalu mengutuki diri sendiri
o, inilah lelakon panjalma
dajjal laknat mengangkangi
seribu maksiat
siap menerkam jiwa yang menghunuskan
gelisah di ujung keyakinannya
inilah kisah negeri perempuan
yang dibeberkan sejarah laki-laki
dan memang dikhusukan diri sendiri
perempuan sirnalah ditelan api
di telan bumi
lelaki, biarlah mati tertikam
persangkaanya sendiri
di ujung bidikan panah terakhir
yang menembus tengkuk para raksasa
; dan mereka
mati ketawa
21 des 2007
sajak-sajak
dunia yang murung
dunia ini penuh kemurungan
meski pula diguyur kesuraman
tidakkah gerah dibungkus sedih
selama berabad-abad dihimpit luka
ayolah kawan terbang ke kebahagiaan
katakan pada diri dan semua orang
bahwa kamu bahagia
bahwa kemarin sore kamu sudah mengubur
kesedihan di belakang rumah
lihatlah sayapmu mengembang
ia akan membawamu ke pelangi
berharap dan doalah
lalu alam akan membukakan
tangganya menuju langit
sebab dunia adalah energi
engkau energi
seluruh bergabung dalam kepadatan
berpijak dan sampai
pada bijak
dunia ini penuh kemurungan
meski pula diguyur kesuraman
tidakkah gerah dibungkus sedih
selama berabad-abad dihimpit luka
ayolah kawan terbang ke kebahagiaan
katakan pada diri dan semua orang
bahwa kamu bahagia
bahwa kemarin sore kamu sudah mengubur
kesedihan di belakang rumah
lihatlah sayapmu mengembang
ia akan membawamu ke pelangi
berharap dan doalah
lalu alam akan membukakan
tangganya menuju langit
sebab dunia adalah energi
engkau energi
seluruh bergabung dalam kepadatan
berpijak dan sampai
pada bijak
sajak-sajak
renungan malam
seorang anak perempuan smp kelas awal ikut ospek
di malam terakhir ada renungan
ia menangis paling awal ketika anak-anak yang lain ketawa ketiwi
mendengar sang pengantar mengalunkan bait-bait pidato sok puitis
ia menangis bukan karena menyesal telah mensia-siakan waktu
dengan tak bersyukur dan tak berterimakasih pada orang tua pun sanak saudara
tapi karena belum dapat kesempatan menghunuskan maut ke jantung bapaknya
ia ingin balas dendam tapi tak ada jalan ada jalan
maut lebih dulu merenggut nyawa bapaknya
di akhir renungan ia tertawa paling keras ketika anak-anak yang lain masih sesenggukan menahan isak penyesalan
ia tertawa karena berhasil menemukan cara balas dendam
yaitu:
menggali kubur bapaknya
dan menusukkan belati tepat pada kemaluannya.
yang dulu sempat mencabik keperawanan sekaligus
kemanusiaannya.
28 desember 2007
Saturday, February 9, 2008
Pilem
Dalam dunia pesantren, santri dan televisi seolah tidak bisa disatukan. Sejak jaman TVRI masih menguasai pasar pertelevisian, hingga sekarang yang marak tumbuh berkembang stasiun TV swasta, di sebagian besar pesantren yang masih memegangi tradisi salaf (tradisional) tidak pernah menjadikan televisi sebagai media yang pantas untuk diakrabi. Malah sebaliknya, ia –TV- seolah-olah sebuah kotak penjelmaan dari setan dan hawa nafsu yang harus dipantangi oleh para santri.
Hal ini bisa dimaklumi, karena tradisi yang dibangun pesantren adalah tradisi membaca (Quran, kitab kuning, dzikir, mujahadah), bukan tradisi melihat. Apalagi tidak bisa dipungkiri, program-program acara yang ditawarkan stasiun TV sebagian besar adalah program hiburan yang dalam kacamata pesantren, dianggap sebagai laghwun (kesia-siaan). Dan laghwun berarti dosa.
Nah, yang menjadi menarik kemudian adalah bagaimana tanggapan dunia pesantren jika program acara TV tersebut disuguhi dengan tema dunia pesantren sebagai citra yang religius dalam bentuk yang lebih khusus lagi yaitu film ataupun sinetron yang notabene dianggap laghwun tersebut?
Menurut Dedy Mizwar, (produser, sutradara, aktor, dan pemilik produktion house), pada bincang-bincang bareng redaktur LkiS di kantor redaksi, menghadirkan pesantren ke dalam bentuk audiovisual (terutama film/sinetron) dapat menjadi alternatif tontonan sekaligus tuntunan islam yang lebih membumi. Ia bisa menyegarkan susana di antara maraknya tontonan islami yang mengedepankan kekejaman dan penyikasaan atas nama agama (Azab dan siksa Tuhan). Ia menambahkan seandainya tontonan semacam itu dibiarkan mewabah, maka tidak menutup kemungkinan orang-orang akan lari daroi islam. “seandainya saya bukan orang islam mungkin saya akan berkomentar, wah, betapa kejam Tuhan umat islam!”
Hal senada diungkapkan pula oleh sutradara muda peraih piala citra 2006 untuk film Brownies, Hanung Bramantyo. Bahkan ia menambahkan bahwa pesantren masih dan akan selalu menawarkan nilai artistik tersendiri dan lain dari pada yang lain. “tapi memang, ini bener-bener proyek idealisme” komentarnya kemudian tanpa harus pesimistis. Karena memang dunia perfileman saat ini masih dikuasai kapitalisme akut.
Dengan tanggapan dan komentar positif dari para praktisi film tersebut, lalu bagaimana dunia pesantren menanggapainya?
“Bagus, saya mendukung, asal dunia pesantren ditunjukkan secara tepat,” begitu komentar Lora Faizi L. Kaelan, seorang Gus sekaligus seorang sastrawan dari pesantren Guluk-guluk Madura menanggapi. Menurutnya, dunia pesantren boleh dan bisa dieksprolasi oleh siapa saja tanpa kecuali asalkan dia benar-benar tahu tentang dunia yang unik dan komplek ini.
Para santri pun mengamini pendapat Gus itu. “bagus sekali, memanfaatkan TV sebagai media dakwah pesantren,” kata Fatkan Anis, santri PP nurul ummah kotagede asal porworejo yang sudah sejak kelas 4 SD mulai nyantri di 3 tempat ini berkomentar bahwa TV tidak bisa mengkover 100% kekayaan dunia pesantren, terutama aspek batiniyahnya. “kalo mau tahu sepenuhnya, ya harus masuk pesantren dulu!” lanjutnya promosi. (red: Setujuuuu!)
Melihat kondisi yang demikian kaya, selanjutnya yang menjadi permasalahan tentu saja siapakah yang harus turun tangan?
Sebagaimana kelaziman sebuah kultur dan komunitas, tentu menyimpan sisi negatif di samping sisi positif. Tentu saja hal ini kadang menjadi keresahan tersendiri bagi pesantren jika sisi negatifnya terlalu diekspos berlebih sementara nilai positif yang mendominasi malah dikesampingkan.
“wah, itu tak perlu ditakutkan, kang. Malah hal itu bisa menjadi otokritik bagi dunia pesantren untuk lebih maju lagi menuju kebaikan. Tapi yang perlu diingat, ya semuanya harus ditampilkan dengan proporsional tentunya,” kang anis yang punya cita-cita kuliah di UNY ini mengakhiri perbincangan.
Secara terpisah, Hj. Nyai Barokah, Pengasuh PP. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta menyatakan bahwa Film-film di TV sekarang sering menampilkan kehidupan kaum perkotaan, dengan ekonimi kelas menengah ke atas. Hal tersebut kurang relevan dengan keadaan mayoritas penduduk di indonesia sehingga menimbulkan gaya hidup kurang pas. Masyarakat terpengaruh film dan bergaya hidup mewah. Menghalalkan segala cara untuk mencapainya.
Beliau juga menyatakan bahwa dalam membuat film pesantren biar para pekerja film yang membuatnya. Yang penting mereka harus tahu benar tentang kehidupan pesantren tidak mengada-ada dan bermisi positif atau dakwah.
Semoga film pesantren ke depan dapat diposisikan dalam keadaan yang proporsional bukan eksploitasi hiburan semata dan dapat menjadi media apik dalam memberikan tontonan yang menuntun arah bangsa ini lewat kebudayaan. Amien.
Hal ini bisa dimaklumi, karena tradisi yang dibangun pesantren adalah tradisi membaca (Quran, kitab kuning, dzikir, mujahadah), bukan tradisi melihat. Apalagi tidak bisa dipungkiri, program-program acara yang ditawarkan stasiun TV sebagian besar adalah program hiburan yang dalam kacamata pesantren, dianggap sebagai laghwun (kesia-siaan). Dan laghwun berarti dosa.
Nah, yang menjadi menarik kemudian adalah bagaimana tanggapan dunia pesantren jika program acara TV tersebut disuguhi dengan tema dunia pesantren sebagai citra yang religius dalam bentuk yang lebih khusus lagi yaitu film ataupun sinetron yang notabene dianggap laghwun tersebut?
Menurut Dedy Mizwar, (produser, sutradara, aktor, dan pemilik produktion house), pada bincang-bincang bareng redaktur LkiS di kantor redaksi, menghadirkan pesantren ke dalam bentuk audiovisual (terutama film/sinetron) dapat menjadi alternatif tontonan sekaligus tuntunan islam yang lebih membumi. Ia bisa menyegarkan susana di antara maraknya tontonan islami yang mengedepankan kekejaman dan penyikasaan atas nama agama (Azab dan siksa Tuhan). Ia menambahkan seandainya tontonan semacam itu dibiarkan mewabah, maka tidak menutup kemungkinan orang-orang akan lari daroi islam. “seandainya saya bukan orang islam mungkin saya akan berkomentar, wah, betapa kejam Tuhan umat islam!”
Hal senada diungkapkan pula oleh sutradara muda peraih piala citra 2006 untuk film Brownies, Hanung Bramantyo. Bahkan ia menambahkan bahwa pesantren masih dan akan selalu menawarkan nilai artistik tersendiri dan lain dari pada yang lain. “tapi memang, ini bener-bener proyek idealisme” komentarnya kemudian tanpa harus pesimistis. Karena memang dunia perfileman saat ini masih dikuasai kapitalisme akut.
Dengan tanggapan dan komentar positif dari para praktisi film tersebut, lalu bagaimana dunia pesantren menanggapainya?
“Bagus, saya mendukung, asal dunia pesantren ditunjukkan secara tepat,” begitu komentar Lora Faizi L. Kaelan, seorang Gus sekaligus seorang sastrawan dari pesantren Guluk-guluk Madura menanggapi. Menurutnya, dunia pesantren boleh dan bisa dieksprolasi oleh siapa saja tanpa kecuali asalkan dia benar-benar tahu tentang dunia yang unik dan komplek ini.
Para santri pun mengamini pendapat Gus itu. “bagus sekali, memanfaatkan TV sebagai media dakwah pesantren,” kata Fatkan Anis, santri PP nurul ummah kotagede asal porworejo yang sudah sejak kelas 4 SD mulai nyantri di 3 tempat ini berkomentar bahwa TV tidak bisa mengkover 100% kekayaan dunia pesantren, terutama aspek batiniyahnya. “kalo mau tahu sepenuhnya, ya harus masuk pesantren dulu!” lanjutnya promosi. (red: Setujuuuu!)
Melihat kondisi yang demikian kaya, selanjutnya yang menjadi permasalahan tentu saja siapakah yang harus turun tangan?
Sebagaimana kelaziman sebuah kultur dan komunitas, tentu menyimpan sisi negatif di samping sisi positif. Tentu saja hal ini kadang menjadi keresahan tersendiri bagi pesantren jika sisi negatifnya terlalu diekspos berlebih sementara nilai positif yang mendominasi malah dikesampingkan.
“wah, itu tak perlu ditakutkan, kang. Malah hal itu bisa menjadi otokritik bagi dunia pesantren untuk lebih maju lagi menuju kebaikan. Tapi yang perlu diingat, ya semuanya harus ditampilkan dengan proporsional tentunya,” kang anis yang punya cita-cita kuliah di UNY ini mengakhiri perbincangan.
Secara terpisah, Hj. Nyai Barokah, Pengasuh PP. Nurul Ummah Kotagede Yogyakarta menyatakan bahwa Film-film di TV sekarang sering menampilkan kehidupan kaum perkotaan, dengan ekonimi kelas menengah ke atas. Hal tersebut kurang relevan dengan keadaan mayoritas penduduk di indonesia sehingga menimbulkan gaya hidup kurang pas. Masyarakat terpengaruh film dan bergaya hidup mewah. Menghalalkan segala cara untuk mencapainya.
Beliau juga menyatakan bahwa dalam membuat film pesantren biar para pekerja film yang membuatnya. Yang penting mereka harus tahu benar tentang kehidupan pesantren tidak mengada-ada dan bermisi positif atau dakwah.
Semoga film pesantren ke depan dapat diposisikan dalam keadaan yang proporsional bukan eksploitasi hiburan semata dan dapat menjadi media apik dalam memberikan tontonan yang menuntun arah bangsa ini lewat kebudayaan. Amien.
sajakku
Engkau Yang Lari
Engkau lari dari dirimu
Meraih burung patah sayap
Menyangkarkan dalam tatapku
Lalu kau tengadah langit
Berharap senja lekas pagi
Sayang aku masih rembulanmu
Hujan telah berkabar
datangnya di pagi buta
di kala hujan
sia-sia kau nanti matahari
kembalilah pada dirimu
aku masih rembulanmu
KG, 05 mei 2007
Subscribe to:
Posts (Atom)
Ingsun
- sorogan
- mbantul, jogjakarta, Indonesia