ini hutan pertama yang akan kusinggahi. entah di mana kang jaledeng dan kang abdurrahman. mungkin mereka sudah sampai kebanyak tempat. sedang aku baru sampai satu tempat saja. maklum, mencari hutan di indonesia sekarang sulit luar biasa. banyak yang sudah gundul entah ducukur siapa.
kami berpisah dengan damai di ujung sore. saling bertukar cendera mata; bekal masing-masing milik kami.
kubuka bungkusan sarung milik Jaledeng. ini kali pertama aku akan tahu apakah isinya.
1. sarung pudar warna entah putih atau kuning. dan ngeper
2. kaos jupiter ada bolong dua tempat deket leher. warna entah putih entah kuning
3. salep 88
4. sandal selen.
tak ada yang istimewa. 1 dan 2 seperti kebanyakan santri lainnya. 3 juga, ia santri modern, memilih mengobati gasebo-nya (ga-ruk-garuk se-kitar bo-kong) dengan salep dari pada membiarkannya menjadi melodi paling enak ketika digenjreng tangan penggitar. 4? hmmm? ketika berpisah kulihat ia memakai sandal dengan komposisi yang sama. mungkin hmmm... biar tak di ghosob? ah siapa pula yang sudi, toh bagian tumitnya sudah habis tipis.
***
sehabis mandi di sungai hutan tak bernama, kuganti bajuku dengan milik kang Jaledeng. aku kangen ia. santri senior yang menurutku unik. salah satu santri dari sedikit santri yang aku kenal di pesantren. maklum aku memang anyar di pesantren al-ganduli itu. aku tinggal baru tiga hari dan memang cuma tiga hari itu. sebab setelahnya kiai segera mengutusku mencari Mutiara Mahdzuf menemani kang Jaledeng dan kang Abdurrahman.
"sekarang kamu makan baceman daging ini," kata kang Jaledeng serius menatapku tak putus.
"terima kasih, kang,"
segera ku santap saja makanan. ia diam. ada sesuatu yang ditahan. kupilih daging diiris kecil2 itu. ah, kenapa daging di sini berasa aneh dan alot?
kulirik kang Jaledeng. senyum tipis setipis kumisnya yang lele.
kukunyah lebih cepat langsung kutelan saja. sungguh alot. aku berhasil membuat perutku kembung dengan makanan kang Jaledeng. sehabis muntah-muntah di kulah, baru ku sadari, sendal swalow-ku hilang satu. tinggal trampatnya saja.
aha, pelajaran pertama, hati-hati dengan makanan kang Jaledeng.
untung di bungkusan sarung bekal kang jaledeng ini tak ada makanan. aku aman. kini kuayun langkah menuju hutan lebih tengah. hutan tak bernama semakin gelap dan suram. sebab matahari semakin angslup keujung cakrawala.
kucari dimana Mutiara Mahdzuf itu? aku berhenti. melihat monyet mulai memerhati. entah kenapa aku kembali teringat kang Jaledeng ada sesuatu yang mirip. kadang ingatan manusia bercampur dalam rangkaian kaitan terpaksa. apa mungkin aku bertanya padanya? pada monyet itu? aha, mungkin saja toh ia juga punya bahasa. ya bahasa monyet...
(bersambung, insyaallah)
Saturday, June 6, 2009
Kisah Burung, Sangkar, dan Pohon
Seekor burung dalam sangkar melihat dengan mata binar
Pohon berdaun hijau lebat bertubuh kekar di samping sangkar
Pikirnya melayang membayang
Berkicau gurau di dahan dan reranting pohon hijau
“Pohon, andai aku bisa bermain
Di hijau daun rimbun tubuhmu
Alangkah bahagia diriku”
Sangkar masih terpekur tak tahu sampai di mana alam pikir burung
Tercecar terpencar
Ia diam, hanya diam
hingga waktu mengajarkan perubahan dan kejutan demi kejutan
“Sangkar, katakan kau sudah tak lagi nyaman
Tiap hari kubuat kau kucakar dan kotor
Sebab kicauku parau sebab tarianku kacau”
Sangkar diam menatap burung
Selama ini bukan ia yang memenjara
Tapi sebaliknya, ia yang terpenjara
Tak mampu ke mana-mana dan tak berbuat apa-apa
Sebab burung terlalu berharga untuk di tinggal begitu saja
Akhirnya diamlah ia di seribu sunyi
“Katakan kau bosan!” pinta burung
Dengan air matanya yang lincah semakin buncah
Oleh sebab sangkar diam saja
Perlahan pintunya terbuka
Paruh burung begitu lincah membius udara
Hingga udara bernyanyi menari
Dan membuat daunan dan reranting pohon ikut bernyanyi menari
tak sengaja turut andil membuka pintu sangkar yang tercekat
oleh dahsyat burung bermusylihat
Perlahan, amat perlahan burung beranjak terbang
Sangkar hanya terpekur takjub
“Bahkan ketika engkau pergi, aku hanya bisa bisu
Tak ada air mata untuk dilinangkan rasa”
Perlahan, dengan amat perlahan
burung menerobos daunan hinggap di ranting dan dahan
Yang sedari kemarin sungguh menarik hatinya
Sebab lebat daunan hijau di tubuhnya
Menjanjikan nyaman di dada
“Kenapa sangkar menangis? Tanya pohon pada burung.
“Sebab ia bosan memenjaraku” jawab burung
Dalam hati pohon berkata sendiri
“Apakah mungkin sangkar menjadi pembosan seperti itu?
Sedang kutahu burung itulah satu-satunya jiwa
yang hidup dalam dirinya
“Aku terbang perlahan, teramat perlahan sebab hancur dan keping
Rasaku meretas satu-satu seperti halnya bulu-bulu
Tercerabut dari tubuhku”
Kembali burung meyakinkan pohon bahwa ialah yang menderita
Pohon, dalam keriput kulit tubuhnya masih merangkai tanda tanya
Hingga suatu saat angin menari gemetar
Sebab nyanyian menyayat berkesiur dari tubuh sangkar
“Aku telah lama terpenjara oleh isi dalam jiwa
Hingga seluruh apa yang dilaku dan berada
Menjadi nyanyian paling indah, tarian paling gemulai, dan kotoran paling wangi
Namun oleh karena keterpesonaanku itulah
Tubuhku lemas tak sengaja rela melepas
Satu-satunya jantung yang berdetak dalam tubuhku
Oh, angin, sampaikan pada pohon
Bahwa setelah hilang burung tersayang
Aku benar-benar menjadi kosong dan mati
Hanyalah sangkar lumpuh yang tak lagi fungsi
Kecuali mengabadikan keindahan masa lalu
Saat kicau masih menggema dalam diriku
Tanpa burung, apalah aku”
Tangisnya tanpa air mata
Pedih kata-katanya tanpa suara
Pohon berhenti bergoyang meski burung
Menari di sela reranting dahan
Ia masih berfikir apa yang harus dilakukan
Agar sangkar, angin, dan burung
Tak perlu lagi mendengar dendang kepedihan
Entah yang palsu entah yang sungguhan
Kotagede, 02 Juni 2009
Pohon berdaun hijau lebat bertubuh kekar di samping sangkar
Pikirnya melayang membayang
Berkicau gurau di dahan dan reranting pohon hijau
“Pohon, andai aku bisa bermain
Di hijau daun rimbun tubuhmu
Alangkah bahagia diriku”
Sangkar masih terpekur tak tahu sampai di mana alam pikir burung
Tercecar terpencar
Ia diam, hanya diam
hingga waktu mengajarkan perubahan dan kejutan demi kejutan
“Sangkar, katakan kau sudah tak lagi nyaman
Tiap hari kubuat kau kucakar dan kotor
Sebab kicauku parau sebab tarianku kacau”
Sangkar diam menatap burung
Selama ini bukan ia yang memenjara
Tapi sebaliknya, ia yang terpenjara
Tak mampu ke mana-mana dan tak berbuat apa-apa
Sebab burung terlalu berharga untuk di tinggal begitu saja
Akhirnya diamlah ia di seribu sunyi
“Katakan kau bosan!” pinta burung
Dengan air matanya yang lincah semakin buncah
Oleh sebab sangkar diam saja
Perlahan pintunya terbuka
Paruh burung begitu lincah membius udara
Hingga udara bernyanyi menari
Dan membuat daunan dan reranting pohon ikut bernyanyi menari
tak sengaja turut andil membuka pintu sangkar yang tercekat
oleh dahsyat burung bermusylihat
Perlahan, amat perlahan burung beranjak terbang
Sangkar hanya terpekur takjub
“Bahkan ketika engkau pergi, aku hanya bisa bisu
Tak ada air mata untuk dilinangkan rasa”
Perlahan, dengan amat perlahan
burung menerobos daunan hinggap di ranting dan dahan
Yang sedari kemarin sungguh menarik hatinya
Sebab lebat daunan hijau di tubuhnya
Menjanjikan nyaman di dada
“Kenapa sangkar menangis? Tanya pohon pada burung.
“Sebab ia bosan memenjaraku” jawab burung
Dalam hati pohon berkata sendiri
“Apakah mungkin sangkar menjadi pembosan seperti itu?
Sedang kutahu burung itulah satu-satunya jiwa
yang hidup dalam dirinya
“Aku terbang perlahan, teramat perlahan sebab hancur dan keping
Rasaku meretas satu-satu seperti halnya bulu-bulu
Tercerabut dari tubuhku”
Kembali burung meyakinkan pohon bahwa ialah yang menderita
Pohon, dalam keriput kulit tubuhnya masih merangkai tanda tanya
Hingga suatu saat angin menari gemetar
Sebab nyanyian menyayat berkesiur dari tubuh sangkar
“Aku telah lama terpenjara oleh isi dalam jiwa
Hingga seluruh apa yang dilaku dan berada
Menjadi nyanyian paling indah, tarian paling gemulai, dan kotoran paling wangi
Namun oleh karena keterpesonaanku itulah
Tubuhku lemas tak sengaja rela melepas
Satu-satunya jantung yang berdetak dalam tubuhku
Oh, angin, sampaikan pada pohon
Bahwa setelah hilang burung tersayang
Aku benar-benar menjadi kosong dan mati
Hanyalah sangkar lumpuh yang tak lagi fungsi
Kecuali mengabadikan keindahan masa lalu
Saat kicau masih menggema dalam diriku
Tanpa burung, apalah aku”
Tangisnya tanpa air mata
Pedih kata-katanya tanpa suara
Pohon berhenti bergoyang meski burung
Menari di sela reranting dahan
Ia masih berfikir apa yang harus dilakukan
Agar sangkar, angin, dan burung
Tak perlu lagi mendengar dendang kepedihan
Entah yang palsu entah yang sungguhan
Kotagede, 02 Juni 2009
Sunday, March 29, 2009
menyusuri seyummu
Menyusuri senyummu
Serupa menapak lawu
Ketika cumbu demi cumbu adalah kabut
Kita menari di tebing maut
Lalu rindu membatu
Berlumut di dasar laut sunyi
Tak pernah lagi berjabat dengan pagi
Kekasih,
Jangan lagi kau kenalkan ombak padaku
Pantai ini tanpa karang
Sebab laut yang sempurna
Tentu penuh buih dan debur
Sedang aku hanya sanggup menyiapkan pasir
Meski kau bangun istana
kan hancur tersapu abrasi air
Serupa menapak lawu
Ketika cumbu demi cumbu adalah kabut
Kita menari di tebing maut
Lalu rindu membatu
Berlumut di dasar laut sunyi
Tak pernah lagi berjabat dengan pagi
Kekasih,
Jangan lagi kau kenalkan ombak padaku
Pantai ini tanpa karang
Sebab laut yang sempurna
Tentu penuh buih dan debur
Sedang aku hanya sanggup menyiapkan pasir
Meski kau bangun istana
kan hancur tersapu abrasi air
Wednesday, March 18, 2009
pada sebuah laut
pada sebuah laut
akulah udara
hanya mencium muka
dan bibir pantai saja
lalu 3 hari ini kutemu selimut batu
merangkulku ke dasar
samudera paling akar
; menemu diri penuh nilai
menemu semua ingin damai
maka biarlah batuku mutiara
senyum orang saat mendapatkannya
maka biarlah batuku bintang menyala
biar padang langit-langit hati
kawan sahabat semua
maka biarlah batuku batu kali
di alir yang meski keruh kokoh menjadi-jadi
maka biarlah aku udara
sekaligus batu
yang sadar bahwa di dasar dunia gelap samudra
pasti ada ikan yang bercahaya
di sammudra itu
aku ingin pula menjadi ikan
sekaligus menjadi cahayanya
jakarta, 16 maret 2009
akulah udara
hanya mencium muka
dan bibir pantai saja
lalu 3 hari ini kutemu selimut batu
merangkulku ke dasar
samudera paling akar
; menemu diri penuh nilai
menemu semua ingin damai
maka biarlah batuku mutiara
senyum orang saat mendapatkannya
maka biarlah batuku bintang menyala
biar padang langit-langit hati
kawan sahabat semua
maka biarlah batuku batu kali
di alir yang meski keruh kokoh menjadi-jadi
maka biarlah aku udara
sekaligus batu
yang sadar bahwa di dasar dunia gelap samudra
pasti ada ikan yang bercahaya
di sammudra itu
aku ingin pula menjadi ikan
sekaligus menjadi cahayanya
jakarta, 16 maret 2009
Tuesday, February 17, 2009
di pematang
di pematang antara tatapku dan bening matamu
tumbuh rumputan saksi
dan ranum buah mesim semi
kuning penuh bulir padi
dan sepoi udara subuh hari
di hentakan cangkul para petani
seandainya dapat kuikat waktu
biarlah begini saja kita bertemu
dan tak ada sore
memaksa pulang burung-burung ke sarang
sebab di pematang ini
tapak sejarah kita riuh anak-anak desa
berdolanan di bawah pohon harapan
di sela jerami cita-cita
mimpi kita masihkah satu
bertemu di bawah pohon jambu
di semak perdu di gubuk sepi
tanpa bising raung gergaji
tanpa asap kemrosak jatuhan pohonan jati
yang di sana tumbuh riuh beton-beton abadi?
mumpung tapak kita masih di pematang
yuk kita abadikan
meski hanya sebatas foto usang
Rumah Matapena, 13 Feb 2009
tumbuh rumputan saksi
dan ranum buah mesim semi
kuning penuh bulir padi
dan sepoi udara subuh hari
di hentakan cangkul para petani
seandainya dapat kuikat waktu
biarlah begini saja kita bertemu
dan tak ada sore
memaksa pulang burung-burung ke sarang
sebab di pematang ini
tapak sejarah kita riuh anak-anak desa
berdolanan di bawah pohon harapan
di sela jerami cita-cita
mimpi kita masihkah satu
bertemu di bawah pohon jambu
di semak perdu di gubuk sepi
tanpa bising raung gergaji
tanpa asap kemrosak jatuhan pohonan jati
yang di sana tumbuh riuh beton-beton abadi?
mumpung tapak kita masih di pematang
yuk kita abadikan
meski hanya sebatas foto usang
Rumah Matapena, 13 Feb 2009
Subscribe to:
Posts (Atom)
Ingsun
- sorogan
- mbantul, jogjakarta, Indonesia