Thursday, April 22, 2010

kisah sepasang api

setelah malam itu,
sepasang api menepi
bercakap dengan nurani
seberapa dalam kenal hakekat diri

tertunduk dalam malam batu

tembok sepi dan rumputan diam
dan batangbatang rokok menyala liar

mereka melihat mencatat dalam tasbihnya

sepasang api membakar diri sendiri

tidakkah terbaca banyak berita duka

di sepanjang koran-tv-radio di internet pula
hidup ini sementara
jika dipenuhi mabuk
maka jiwa akan lupa
dan mati sebelum waktunya

sepasang api perlahan surut

setelah lama ego saling memagut
nyeri jiwa mereka basah air mata

kemarinkemarin mereka lupa

bahwa yang pantas dikenang
hanyalah kebaikan bagi sesama

pagi harinya sepasang api tersenyum

pada setiap orang yang datang entah dari mana
membakar tungku hidup mereka
menghangatkan malam dingin bagi semua

dan ketika mati kelak

mereka tetap hidup dalam setiap benak

matapena, 9 Agustus 2009


(ingin seperti mbah surip dan ws rendra

; meski mati tapi tak pernah mati)

aku harus bagaimana?

aku harus bagimana
aku diam cintamu tetap bara

aku harus bagimana

aku berkata-kata hasratmu tambah gelora

aku harus bagaimana

aku pergi menjauh kau tunggu dengan rindu penuh

aku harus bagaimana

aku dekati kau malah bersikap malu-malu

aku harus bagaimana

jika nyatanya aku sudah berpunya

aku harus bagaimana

apakah harus poligami saja

aku harus bagaimana

agar aku tak lagi bertanya

sekian terimakasih dan...

wassalamu'alaikum wr. wb...

lembayung, 6 juli 2009


(terimakasih gus mus yang mengajari aku bertanya)

Sunday, August 30, 2009

Monday, July 27, 2009

aku tak ingin lagi menulis

aku tak ingin lagi menulis
sebab menulis itu membuatku jatuh cinta
dan kalo aku jatuh cinta
aku pasti akan memendamnya

nah, kalo keinginanku menulis terpendam
alangkah sial nasib hidupku
sebab mampus impianku
sebab tak lagi aku jadi penulis

“mangkanya kalo cinta jangan dipendam!”

hus, suara dari mana tuh!

matapena, 27 juli 09

Tuesday, June 30, 2009

Kisah Burung, Sangkar, dan Pohon

Bagian II

Di pohon rindang tak hanya satu burung
Bermain teduh di sela reranting dahan
Begitu banyak kicau membuah
Pohon hatinya bungah

“siapa lagi hendak singgah
Silakan saja ku sambut ramah”
Pohon berkabar lewat angin ke seluruh celah

“Tapi perlu ditahu
Buahku sedikit saja tersedia
Harus sama-sama bijaksana”

Sekali lagi pohon rekah rasa
Rindangnya meneduhkan
Buahnya mengenyangkan
Sesiapa singgah dipastikan betah

Hingga satu siang saat terik matahari menyerang
Terlihat beburung saling merapat
Semacam ada rapat
Namun ternyata mereka sama-sama sekarat
Buah pohon tak pernah cukup memberi manfaat
Bagi setiap burung hinggap

Malamnya saat bulan enggan datang
Pohon lesu dan merasa malang
Dirinyalah penyebab segala sengsara
Meski awal niatnya sungguh mulia

Dan anginlah sahabat setia
“kenapa murungmu sungguh layu?”

“sebab buahku hanya satu”

“begitulah takdirmu”

“maka biar kutawarkan saja pada tanah
Saat jatuh, kuharap akan ada yang tumbuh
Menjadi pohon-pohon lain lebih teduh”

Angin diam, ia hanya tersenyum
Pohon juga diam ia menahan ngungun
Beburung diam kicaunya tertahan

ahai, dan lihatlah sangkar, sepertinya akan ada satu burung
Yang menemaninya bukan untuk terpenjara
Tapi lagi-lagi memenjara…

Matapena, 27 Juni 2009

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia