Thursday, April 22, 2010

di sebuah bioskop terbesar di jogja

Temenku kemarin sore, mampir ke salah satu bioskop terbesar di jogja jam 2.30, dia pengen nonton Sang Pemimpi. setelah ngantri tak begitu banyak, dia dapat 2 tiket pd pkul 3.00 untuk dia dan temennya masuk pukul 16.20. dia harus nunggu. dia belum sholat ashar.
"di sini ada mushola ga ya?" tanya temenku pada temennya.
"kayaknya ada deh, gedung se gede gini masak ga ada," jawab temennya temenku.
lalu ia bertanya pada petugas jaga.
jawabnya, "maaf, ga ada, mas,"
Temenku menjawab, "o," sambil ngacir cari masjid paling dekat... hmmm...

Musa dan Syuaib Sang Ayah

tiba-tiba menjelma Musa, melompat dari gelap menemu perempuan bersayap. menatih pada Syuaib sang ayah yang bijak, "Sesungguhnya aku bermaksud menikahkan kamu dengan salah seorang dari kedua anakku ini,"
sungguh, amanah hebat tiba di atas pundak yang bungkuk, sadar bahwa selama 8 tahun tak ada yang diperbuat, maka, menunggu 2 tahun akan nikmat sebagai penggenap, memperbaiki niat, laku, dan tentu saja ilmu...
"Dan kamu insya Allah akan mendapatiku termasuk orang2 yang baik," sang ayah tersenyum cerah.
sungguh, hati tentu saja menjadi bungah.
(insp QS. al-Qashash 28: 27)

kalo punya anak

Seorang ibu pada hari senin pagi ngomel masalah anak nomor duanya yang pelitnya ampun pada anak-anaknya yang laen.
“Tuh liat bujang nomor dua, tak pernah sedikitpun ngasih apalah sama ibunya yang satu ini. Lupa dia rupanya sama ibunya ini,”
Pada hari selasa, sang ibu mengajak anak nomor tiga dan empat masak kolak di rumahnya. kebetulan waktu bulan ramadhan. kolak jadi tren di dapur. Setelah selesai matang, ibu itu berkata,
“sekarang kirimlah barang satu nampan ke rumah budak nomor dua, biarlah dia merasakan masakanku,”
“bu, ndak usahlah, buat apa? Tak pernah dikasihnya ibu olehnya kenapa harus dikasih pula?” protes anak nomor tiga.
“alah, kau rasakanlah sendiri nanti kalo sudah punya anak,”
Anak nomor tiga mengelus perut buncitnya, ia memang sedang hamil anak pertama.

malam gila.

malam separuh. bulan luruh. aku pusing banyak tugas mengepung. tiba-tiba malam menjadi gila. (atau aku yang gila gara-gara malam ini? entahlah)
lalu dengan enteng aku bilang ke mahbub jamaluddin... yang asyik di depan laptopnya, "Golekke aku bojo, Mah!"
dengan enteng pula ia menjawab, "aku we ra entuk entuk kok...!
lalu kita berdua tertawa, "hahaha..."
orang-orang belum tahu kalo sekarang aku gila hahaha...

kisah sepasang api

setelah malam itu,
sepasang api menepi
bercakap dengan nurani
seberapa dalam kenal hakekat diri

tertunduk dalam malam batu

tembok sepi dan rumputan diam
dan batangbatang rokok menyala liar

mereka melihat mencatat dalam tasbihnya

sepasang api membakar diri sendiri

tidakkah terbaca banyak berita duka

di sepanjang koran-tv-radio di internet pula
hidup ini sementara
jika dipenuhi mabuk
maka jiwa akan lupa
dan mati sebelum waktunya

sepasang api perlahan surut

setelah lama ego saling memagut
nyeri jiwa mereka basah air mata

kemarinkemarin mereka lupa

bahwa yang pantas dikenang
hanyalah kebaikan bagi sesama

pagi harinya sepasang api tersenyum

pada setiap orang yang datang entah dari mana
membakar tungku hidup mereka
menghangatkan malam dingin bagi semua

dan ketika mati kelak

mereka tetap hidup dalam setiap benak

matapena, 9 Agustus 2009


(ingin seperti mbah surip dan ws rendra

; meski mati tapi tak pernah mati)

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia