Thursday, April 22, 2010

racun paling obat

Sampai kau sadar akulah racun
Berkali kau teguk
Tak hendak kau berhenti
Tak pula kau mati-mati

Mungkin sebab racunku terindah

Yang pernah dimiliki sejarah
Mungkin sebab racunku paling obat
Penyembuh segala perih erang sakit

Sakitmu sakit ingin bertemu

terlalu mencinta

engkau telah menggelar sajadah panjang permusuhan
tempat amarah demi amarah mensujudkan kening kedengkian
menyembah pada rasa murka tak kenal binasa

jika ditanya

; kenapa?

jawabmu selalu

; sebab terlalu mencinta

aku memilih diam

dan menjadi biasa saja

rindu tak berbatas

kekasih,
cintaku tumbuh tak berbatas ruang waktu
begitulah kuyakinkan dirimu

mengapalah mesti meragu

jika hati telah sama menyatu

jikapun mata pedang menatap leherku

pantang untuk diriku tak maju
hanya tentu butuh jalan lain jurusan
agar tebasnya tak perlu membuat luka mematikan

semoga sama begitulah engkau

meski jerat tali mengikat
loloskan pelan dan bersahabat
sebab meronta hanya akan membuat nganga luka
entah engkau entah siapa

kekasih,

sungguh, telah kurindukan kau
bahkan sebelum kita pernah bertemu

matapena, 28 feb 2010

kisah jerawat

satu jerawat bertamu
mengucap salam rindu
mengetuk pintu wajah bertalu-talu
“adakah penghuni di rona warna biru?”
sang wajah manahan bisu
tangannya sigap membuka pintu
bukan untuk menerima tamu
tapi kabur ke rona warna ungu
“siapa juga yang mau dihinggap jerawat itu!”
kata sang wajah sambil mengunci pintu

jerawat minggat melesat menderu

sampai lupa, hatinya tertinggal di depan pintu

ahad sore, 21 februari 2010

wajahmu

wajahmu berbeda hari-hari ini
adakah yang kau sembunyikan dariku
ataukah engkau telah mengalami hari yang teramat buruk?

wajah itu tersenyum

; hambar

ronanya berkeping rapuh

seperti terlindas rel kereta
yang saban harinya menemani
saat pagi membuka jendela
saat malam menata bantal tidurnya

“setelah ini hendak kemana

aku letih menghitung gerbong kereta
yang tak pernah ketemu saat kita hitung bersama”

wajah itu tersenyum

;letih dan luka

ku tatap wajahmu dengan teliti

kita masih akan tetap di sini
menunggu kereta berhenti

wajah itu tersenyum

; ia sungguh mengerti
kereta tak akan pernah singgah lagi

timoho, 05012010

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia