Sunday, June 1, 2008

i am

not about who am i
not about what am i
but about your quetions
that without your mouth

that i am nobody
that i am somebody
that not in my mind
only

i am just everybody...

Wednesday, March 26, 2008

- BENDERA -
sebuah naskah surealis

Setting: tempat upacara
Pemain: Protokol, Inspektur, Ajudan Kanan, Ajudan Kiri, Komandan, Pengibar Tngah, Pengibar Kanan, Pengibar Kiri

Komandan : (masuk ke tengah panggung) Istirahat di tempat, grak!
Protokol : Inspektur upacara memasuki tempat upacara
Komandan : siap grak!
Inspektur : (memasuki tempat upacara dikawal dua orang Ajudan. Lalu berdiri di atas podium. Badannya bongkok kelebihan lemak di perut. Ia tak lagi bisa berdiri dengan tegak. Tidak ada yang bisa melupakan senyum khas Tuan Inspektur.)
Komandan : kepada, inspektur upacara, hormat senjata, grak!
Instruktur : (membalas hormat)
Komandan : Tegak senjata, grak!
Protokol : Pengibaran sang merah putih, hadirin dimohon berdiri.
P. Tengah : (menyiapkan tim) Siap, grak! Lencang kanan-kiri, grak! Tegak, grak! Maju… jalan! (Pengibar bendera berbaris rapi menuju tiang bendera.)
P. Tengah : Berhenti, grak! (berhenti tepat beberapa langkah di depan tiang bendera.) siap, grak! Lencang kanan-kiri, grak! Tegak, grak! Maju satu langkah ke depan, jalan! Hadap kanan-kiri, grak!
P. Kanan : (membuka tali dan memasangkan bendera)
Protokol : (masuk ke panggung. Para pemain lain mematung) Hari ini adalah ulang tahun kemerdekaan Negeri Merah Putih yang ke satu juta. Untuk itu perlu adanya rutinitas kenegaraan berupa upacara bendera. Betapa banyak sudah darah yang tumpah. Harta benda jadi musnah dikeruk penjajah. Harga diri hilang digasak atau tiba-tiba dengan sendirinya jadi rebah. Arwah para pejuang turut menyaksikan upacara ini dengan isak tangis kenangan. Ada yang mengenang masa perlawanan, tapi lebih banyak yang menangis karena menyaksikan penerus mereka yang kini tak bisa lagi membedakan arti penjajah, dijajah, dan terjajah. Semuanya kabur seperti halnya pagi ini ketika semua tiba-tiba menjadi kabur.
Pada saat pertama, para hadirin semua pada melongo. Pada saat kedua mereka sama-sama menutup mulut dengan kedua tangan. Pada saat ketiga, ributlah mereka seperti gemuruh tawon yang menyusun rumah. Arwah para pejuang hening. Mereka teringat jaman dahulu ketika pengorbanan itu bertujuan satu; menegakkan sang merah putih di atas tanah air ini. Betapa besar korban yang harus dijatuhkan demi untuk merah dan putih, namun pada hari ini entah mengapa tiba-tiba seperti ada pengejekan luar biasa pada diri mereka; arwah para pejuang. Bendera yang semula akan dikibarkan, entah kenapa begitu dibuka….
P. Kanan : (membuka bendera. Warnanya putih semua. Kaget. Lalu pingsan. Pengibar yang lain diam bingung.)
Inspektur : (matanya melotot. marah) mana warna merahnya? Cepat ganti bendera! Memalukan!
Ajudan Kanan: (meraih HT-nya. menghubungi protokol.) tenangkan keadaan!
Protokol : (menganggkat HT. mengangguk-angguk. Gugup. Bingung.) Hadirin dimohon tetap tenang.
Komandan : (Secepat kilat menyerahkan bendera pengganti pada petugas pengibar bendera. Sebelumnya membangunkan dari pingsannya.)
P. Kanan : (mulai memasang bendera dan membuka lagi. Putih-putih)
Protokol : Lagi-lagi bendera kehilangan warna merahnya. Kedua kalinya Inspektur marah. Dicarilah bendera yang berwarna merah dan putih di seluruh Negeri Merah Putih. Tapi sayang, seluruh bendera tinggal warna putihnya. Tuan Inspektur berang.
Inspektur : (bilang pada ajudan kiri) ajudan, bilang pada Pejabat Urusan Dalam Negeri, dengan bagaimanapun caranya, cari kain merah putih, pokoknya berwarna merah putih, cepat!
Ajudan kiri : (berlari keluar panggung dan masuk ke panggung lagi) Maaf, tuan inspektur, kata Pejabat Urusan Dalam Negeri, seluruh warna bernama merah telah lenyap dari muka bumi Negeri Merah Putih.
Inspektur : Goblok! (mukanya merah. Ia pukul-pukul kepalanya sendiri.)
Kedua Ajudan: (mencoba mencegahnya.)
Inspektur : Ajudan, instruksikan pada Pejabat Urusan Luar Negeri untuk mencari merah putih di luar negeri!
Ajudan kanan : maaf tuan, barusan Pejabat Urusan luar negeri sms, (menunjukkan sms) seluruh negeri di dunia tak lagi punya warna merah.
Inspektur : Goblok! Goblok! Goblok!
Ajudan Kiri : ada sms dari Pejabat Urusan Kehewanan, katanya ia punya ide untuk menyembelih hewan dan mengumpulkan darahnya untuk dijadikan pewarna merah. Bagaimana tuan?
Inspektur : Ok! Cepat laksanakan, goblok!
Protokol : Tanpa pertimbangan apa-apa, disetujuilah ide itu dan dengan segera Pejabat Urusan Dalam Negeri memberi instruksi untuk menyembelih beberapa kambing. Darah merah memang mengucur, tapi setelah itu yang ada hanya kesia-siaan, darah itu mengental dan berubah menjadi hitam. Tak kehilangan akal, disembelihlah hewan-hewan lain, mulai dari nyamuk, ikan, buaya, ular, komodo, jerapah, macan dan segala macam hewan yang hidup di seluruh Negeri Merah Putih. Dan nol hasilnya. Darah akan segera kering dan berubah menjadi hitam. Tak lagi ia bisa dicairkan dan digunakan. Padahal, seluruh hewan telah habis disembelih oleh Pejabat kehewanan.
Inspektur : Kita adakan sidang terbatas.
Protokol : Digelarlah sidang istimewa mendadak di ruang khusus. Dalam kondisi serba sulit seperti ini, bak pahlawan kesiangan, Pejabat Urusan Kesehatan muncul dengan idenya menggunakan darah manusia.
(divisualkan dalam bentuk film dalam layar projektor)
Pejabat urusan kemanusiaan: “Gila, mau menyembelih manusia?”
Pejabat Urusan Kebudayaan dan Pejabat Urusan Keagamaan: “Tak bisa dilanjutkan,”
Pejabat urusan kemanusiaan: “Maksud saya, kita bukan menyembelih manusia, tapi sekedar menggunakan darahnya, kita ambil darahnya saja. Perintahkan agar setiap manusia yang mempunyai darah merah mendonorkan darahnya untuk kepentingan merah putih. Yang darah putih dan biru seperti kita ini tidak perlu,”
Inspektur : Setuju! (terdengar suaranya saja)
Protokol : lalu, dicarilah darah merah. Dan karena persediaan darah merah di rumah sakit, maupun Palang Merah Merah Putih (PMMP) habis, akhirnya wajib donor pun dilakukan. Seluruh rakyat yang berdarah merah antri di puskesmas, rumah sakit, Palang Merah Merah Putih (PMMP) maupun tempat-tempat yang khusus untuk mendonorkan darahnya. Sedangkan rakyat yang berdarah biru boleh menjadi penonton. Walhasil, nihil. Darah rakyat itu telah menjadi putih. Terlalu sering mereka wajib donor, dan sisanya hanyalah dalah putih. Kebutuhan gisi sehabis donor tak ada yang memperhatikan.
Frustasi, depresi, dan stres. Para pejabat Negeri Merah Putih sedang mengalami titik jenuh keputusasaan. Negeri Merah putih adalah negara mereka. Jika warna merah hilang, maka hancurlah negara. Mereka menatap meja pertemuan dengan kekosongan, masih ingat ketika mereka mendengar penjelasan dari guru sejarah, bahwa pengorbanan para pahlawan kemerdekaan sangatlah tak terbayarkan demi warna merah berani dan putih suci. Para pahlawan sangat faham bahwa hanya dengan keberanian menjadi bangsa dan kesucian hati berilahilah bangsa dapat berkibar di angkasa. Teori itu mereka hafal di luar kepala. Karena sewaktu tes masuk anggota kepejabatan, hal itu diujikan secara lisan maupun tulis. Untuk ujian praktek sengaja ditiadakan karena pasti semua akan gugur.
Meja itu kosong, seperti tatapan mereka. Bukan pada saat itu saja namun telah begitu sejak generasi pendahulu mereka. Sepetinya semua pintu menuju titik terang telah tertutup. Sidang pejabat terbatas tersebut mengalami kebuntuan.
(film)
Pejabat urusan kemanusiaan:
“Bagaimana dengan kita? Apakah kita perlu mendonorkan darah kita? Siapa tahu darah kita berwarna merah?”
Pejabat Urusan Kebudayaan: “Itu terserah kalian, tapi secara pribadi saya menolak, wong saya itu harus cuci darah sehari sekali kok diminta donor. Ya matek saya,”
Pejabat Urusan Keagamaan: “Benar, meski saya tahu, tadi pagi gusi saya berdarah dan darahnya berwarna merah, tapi saya enggan mendonor. Kondisi saya sama dengan anda-anda sekalian, harus cuci darah sehari sekali,”
Diputuskanlah para pejabat itu tak mendonorkan darahnya meski diketahui warna darah mereka merah. Dan ditambah lagi bahwa perlu diumumkan bahwa darah mereka biru.
Inspektur : Lalu kita harus bagaimana?
Protokol : Tuan Inspektur benar-benar ciut nyalinya. Pejabat Urusan Kriminalitas tiba-tiba mengacungkan tangan. Mukanya cerah. Sepertinya ia punya ide brillian.
(film)
Pejabat Urusan Kriminalitas:
“Kemarin saya meninjau daerah konflik. Dan saya masih melihat darah segar di sana terbuang sia-sia. Mungkin inilah saatnya kita membuatnya jadi berguna,”
Inspektur: Tolong lebih diperjelas!
Pejabat Urusan Kriminalitas: “Jadi kita kobarkan lagi semangat peperangan saudara di antara meraka dan tunggu saat mereka mencecerkan darah lawan. Lalu kita kumpulkan darah itu, bagaimana?”
Pejabat Urusan Kemanusiaan: “Apa tidak ada cara yang lebih manusiawi?”
Protokol : Semua hanya geleng-geleng kepala. Tak lama kemudian. Keputusan telah bulat. Pembantaian di Negeri Merah Putih telah menjadi seperti wabah penyakit. Cepat menular. Pertikaian di mana-mana. Pembunuhan terjadi di setiap kesempatan. Semua pegang golok, pedang, keris, pistol, senapan, garpu, sendok, silet maupun senjata yang segera dapat mengucurkan darah segar. Sudah ada penadah untuk darah-darah itu. Dan seperti kebiasaan perdagangan, para penadah itulah yang menikmati untung paling besar. Setelah darah-darah itu terkumpul berbarel-berel, barulah diusung ke ibu kota.
Inspektur : Apa? Tak bisa di cairkan lagi? (suaranya saja)
Ajudan : Tak bisa Tuan, darah yang kering itu sudah tak berguna lagi. (suaranya saja)
Protokol : Padahal sudah jutaan penduduk negeri merah putih dikorbankan untuk mengumpulkan darahnya, tapi lagi-lagi. Nol besar. Darah itu terbuang lebih sia-sia lagi. Hanya lalat yang kini memanfaatkannya.
Di saat seperti inilah dibutuhkan peri penolong yang akan menjumput tangan-tangan terkapar dan menitahnya ke alam pencerahan. Muncullah diplomat dari Negeri Warna-Warni yang datang menawarkan cahaya.
Diplomat Negeri Warna-Warni : Jadi kondisinya seperti demikian.
Inspektur : Apa tidak bisa diturunkan lagi?
Diplomat Negeri Warna-Warni : “Tidak, itu harga yang harus kalian bayar untuk sebuah kebesaran Negeri Merah Putih,”
Inspektur : Ok, aku setuju (masuk panggung bareng ajudan)
Protokol : Tanpa minta pendapat lagi, Tuan Inspektur menyetujui harga untuk warna merah dari diplomat Negeri Warna-Warni. Bersoraklah seluruh warga negeri, akhirnya upacara segera bisa dilanjutkan meski hanya dihadiri para pejabat saja. Karena seluruh rakyat sudah habis saling bantai untuk proyek darah yang sia-sia itu. Pengibaran sang merah putih, hadirin dimohon berdiri.
Komandan : (membawa bendera merah putih dan menyerahkannya pada pengibar bendera)
P. Kanan : (menali dan siap) bendera siap!
Komandan : kepada sang merah putih, hormat senjata… grak!
Semua :
(bernyanyi)
Hiduplah negri merah putih,
Merah putih, tanah airku tanah tumpah darahku
Di sanalah aku berdiri jadi pandu ibuku
Merah putih kebangsaanku, bangsa dan tanah airku
Marilah kita berseru merah putih bersatu
Dst…
Protokol : Dikibarkanlah sang merah putih dengan perkasa dan dada membusung para pejabat. Bibir mereka pada waktu itu merekah. Tapi entah bagaimana, wajah mereka murung dan kusut. Seperti tak ada harapan. Bendera terus saja merangkak naik. Angin tiba-tiba kencang menerpa. Bendera melambai-lambaikan tangannya. Bukan, ia bukan merayakan pengibarannya tapi seolah minta tolong dan melolong. Tangan-tangannya menggapai-gapai. Ia ingin lepas dari tali kekangnya. Dan sampailah pada pertengahan tiang, ia berhasil meloloskan diri dan terbang bersama angin tornado yang memporandakan negeri itu. Arwah para pejuang yang menolong dan membawanya lari. Ia kini melayang bersama arwah para pejuang dan kembali ke masa lalu.
Suara : Priiit…! (suara peluit. Suara tank tempur. Suara penyerbuan)
Suara : perhatian-perhatian, sekarang batas akhir pembayaran warna merah, untuk itu silahkan seluruh penduduk negeri merah putih meninggalkan tanah dan airnya karena segara akan diambil alih oleh negri warna warni…
(para pemain meninggalkan panggung seperti orang terusir)
Protokol : Tepat seperti kesepakatan, pada saat bendera berada di setengah tiangnya, Negeri Warna-Warni berhak penuh atas seluruh tanah dan seluruh air yang berada di Negeri Merah Putih sebagai bayaran atas warna merah yang mereka berikan. Ya, sebagai bayaran atas kesepakatan Sidang Pejabat Terbatas. Untung makhluk yang ada di Negeri Merah Putih telah musnah, kalo tidak, mereka akan begitu kebingungan mencari tempat tinggal dan sumber pangan. Tinggal para pejabatnya saja yang hidup, dan mereka harus membayar dobel, pertama, membayar uang sewa tanah dan air. Kedua, uang cuci darah. Dan ketiga, uang pemakaman untuk harga diri mereka.
Hei semua pada bangun! (semua pemain bangun dari tidur) waktu untuk mimpi buruk sudah habis! sekarang waktunya upacara bendera!
(pengibar bendera menuju tiang bendera bersiap mengibarkan bendera merah putih)
pengibar: bendera siap!
Komandan: Kepada sang merah putih, hormat senjata, Grak!
Seluruh pemain : (dilagukan) hiduplah indonesia raya… (sampai rampung)

Tamat
Kotagede, 100807-250308

Wednesday, March 5, 2008

mesti

semestinya semua itu tidak mesti/ tetapi kenapa kemestian itu ada?/ yang memestikan hanyalah perasaan/ dan dari mana perasaan?/ ah, kayak tidak tahu saja/ ya dari dulu donk!/ jadi tolong, jangan pernah tanyakan/ apa yang semestinya/ sebab pertanyaan mesti dijawab/ dan jawaban mesti hanya ada satu kemestian/ yaitu mesti benar// engkau akan mengatakan tidak/ sebab; kebenaran yang mesti/ tidak pernah mencapai mutlak//

05 Maret 08

Tuesday, February 26, 2008

Amanat

Sebagai abahnya aku sangat mengerti kondisi batinnya. Aku sangat tahu Nila itu seperti apa. Si kecil di pangkuanku yang kini harus kembali ke pangkuan. Dibelai dan ditunjukkan bagaimana cara mengusap ingus. Ia harus segera menikah. Meski bisa dipastikan ia tak akan mau jika aku hanya sekedar menawari. Harus ada sedikit paksaan agar ia benar-benar mau. Menikah baginya tentu teramat berat. Apalagi ia kadung menyerahkan ruhnya pada almaghfurlah kyai Abas. Padahal sebenarnya ia belum tahu sepenuhnya siapa kyai agung Abas itu.
------------
Aku benar-benar tak akan menikah lagi. Ini keputusan final. Pada setiap kesempatan aku bertemu sanak kenalan, santri-santri senior, alumnus, bahkan para kyai sepuh. Aku selalu menyatakan tidak untuk menikah lagi. Bagaimana mau menikah, almaghfurlah hampir setiap hari masih menemani dalam mimpi-mimpiku. Menjadi pembimbing bagi ruhku. Belum lagi bagaimana aku harus menjelaskan pada Nashir, putra pewaris tahta. Meski beban yang harus ku tanggung begitu berat. Walau dukungan Abah untuk menikah lagi setiap saat aku pulang selalu meningkat bahkan hampir pada tahap mendesak. Keputusan final adalah: tidak.
------------
Ibu masih terus menghubungiku. Dan aku tak biasa memberikan apa-apa kecuali sekedar selalu berpesan agar ibu sering-sering ziarah ke makam bapak. Aku tahu siapa kakek. Terkadang, bahkan sering, ia tiba-tiba membuat keputusan yang tak masuk di akal. Dan kadang, bahkan sering pula, hikmahnya baru datang belakangan. Setelah terjadi gejolak, barulah badai laut pun jadi setenang danau. Tapi untuk mendukung atau menolak perjodohan itu, aku sebagai anaknya tak bisa apa-apa. Meski ketika kukedepankan emosi, aku tetap tegas menyatakan: tak rela.
----------------
“Boyong! Pokoknya kalo sampai Ibu Nyai Nila nikah lagi aku akan boyong.”
“Sama Kang Tohir. Aku juga,”
“Aku tak kuasa melihat orang lain di samping Bu Nyai Nila kecuali Kyai Abas. Aku tak rela,”
“Sama Kang Tohir, aku juga tak rela. Apalagi calonnya lebih muda dari kita. Masak manggilnya Dek Kyai,”
“Sebagai santri senior, yang sudah kepincut dengan Kyai Abas, aku tak mungkin pindah ke lain hati. Sekali Kyai Abas, tetap beliaulah guruku, bukan yang laen,”
“Sama, Kang Toh…”
“Sama, sama… ndak kreatif kamu, Jo, Tejo…!”
“Sama, Kang,”
“Husss…”
---------------
Aku bisa merasakan gejolak dalam diri para santriku. Apalagi yang sudah senior-senior seperti Tohir, Sugi, Tejo dan lainnya . Aku tahu bahwa kyai, guru, dan bahkan bapak mereka adalah Mas Abas. Dan sebenarnya aku pun begitu. Belum lagi janjiku pada mereka bahwa aku benar-benar tak punya keinginan untuk tazawwuj lagi. Pada saat-saat tertentu kadang aku berpesan agar mereka mengingatkan aku jika suatu saat aku teledor dan memutuskan menikah lagi. Tapi untuk keputusan ini aku tak main-main. Ini memang bener-benar keinginanku. Kemauanku untuk bersuami lagi.
--------------------
Kalo tidak dipaksa demikian, Nila tak mungkin mau. Tangan besi bukan berarti membunuh. Tapi ketegasan yang lebih baik. Sebenarnya aku tak begitu tega ketika mengacuhkannya seperti beberapa bulan kemarin. Aku telah membuatnya asing di rumahnya sendiri. Setiap pulang ke sini ia selalu kubiarkan teronggok seperti angin. Hampa dan tiada. Sepertinya ia tambah menderita saja. Namun merusak urusan kecil demi menyelamatkan yang lebih besar adalah jalan yang lebih tepat. Dari pada terus menerus aku selalu mendapati dirinya berkesah tentang keadaannya yang ringkih sepeninggal Abas. Ngasuh pesantren dengan ratusan santri yang tidaklah mudah. Apalagi sendiri tanpa kekasih yang bisa diajak berkesah. Siapapun akan segera rapuh. Dan bagi seorang perempuan di dunia laki-laki ini, fitnah tentu akan mudah dihembuskan. Apalagi ia tinggal di rumah itu sendiri tanpa putra. Nashir, putra satu-satunya, masih harus di kudus merampungkan qurannya. Ia tentu akan baik-baik saja di sana. Aku akan menanganinya.
----------------------
Aku tak bisa apa-apa. Toh aku bukan benar-benar darah dagingnya. Meski seharusnya akulah yang akan menjadi pengasuh setelah rampung quranku di kudus ini, aku tetap tak bisa berbuat apa-apa. Bahkan kalau boleh jujur, sebenarnya aku rela-rela saja jika kepengasuhanku diambil alih. Menjadi kyai tak semudah menjadi pejabat. Jika laknat Tuhan sendiri yang turun tangan lewat bencana dengan menjadikan umatnya semakin bejat. Dan aku bukan apa-apa dibanding Almarhum Bapak, kyai alim alamah Abas Abdullah. Beliau terlalu arif, bijak, dan cerdas luar biasa. Kiranya aku tak pantas menggantikan posisi beliau. Apalagi aku telah punya Tiara.
---------------------
“Lalu wasiat itu bagaimana, Kang Tohir?”
“Kita harus mengiringnya. Aku termasuk salah satu yang jadi saksi waktu itu, dan salah satu bunyi wasiat itu adalah bahwa Gus Nashir lah yang bakal meneruskan tampuk kepengasuhan pesantren ini. Bukan orang laen,”
“Tapi kapan Gus Nashir pulang dari Kudus,”
“Ya kalo beliau sudah siap, Jo,”
“Kapan siapnya, Kang?”
“Ya tanya sendiri sama Gus Nashir,”
“Piye tho?”
Diam.
“Yang menjadi kekawatiranku dan banyak para alumnus, paska perkawinan ini, mau dibawa ke mana pesantren ini. Otomatis suami Bu Nyai, kan ya jadi kyai juga. Jadi pengasuh. Apalagi nanti kalo dari perkawinan ini melahirkan putra. Tambah ruwet lagi tho. Pokoknya kita harus mengiring wasiat Almaghfurlah,”
***
Aku hanya punya satu modal. Sami’na wa atho’na pada Kyai Lukman. Bagiku hidup dan mati ini sudah ku pasrahkan pada nasab guru agungku, Kyai Lukman. Semenjak lulus SD aku telah tahu bahwa Kyai Lukman-lah yang patut jadi panutan dunia akhirat. Ia benar-benar pewaris nabi. Ulama’ yang arifnya tak tertandingi. Dan aku turut pada titahnya. Meski aku tak pernah tahu siapa Nyai Nila. Meski aku juga belum tahu seagung apa Kyai Abas Abdullah semasa hidupnya. Yang aku tahu aku menurut pada kerso Kyaiku, Saykh Lukman. Bahkan kutinggalkan tunanganku, Dek Isti, demi ta’dzimku pada kyai. Itu saja modalku: keta’dziman. Oh Dek Isti, maafkan Mas Saiful-mu ini. Semoga ini yang lebih baik.
------------
Apa sih yang mereka takutkan? Masalah wasiat? Kalo masalah itu aku pun tak pernah main-main. Wasiat adalah amanat. Dan amanat yang tak ditepati akan jadi api yang membakar di neraka nanti. Ustadz Saiful itu bukan siapa-siapa. Ia bukan darah biru, putih, atau apapun. Ia bukan berasal dari keturunan kyai manapun. Ia benar-benar orang biasa. Beda dengan Kyai Darul, Pak Muzayyin, Ustadz Damanhuri, atau calon-calon lain yang ditawarkan abah. Dan aku memilihnya karena hal itu. Karena keta’dzimannya pada gurunya Kyai Lukman, pada agama. Pada umat yang taat seperti dialah aku patut taat.
------------
Sekali lagi aku tak bisa memberi apa-apa. Bahkan sekedar saran. Apalah aku ini. Nashir malang yang tidak punya sesiapa sanak saudara lalu tiba-tiba menerima anugrah cinta dan kasih sayang ibu bapak yang mengasuhku selayak jantung hati hingga derajatku naik. Kurang bersyukur apa aku jika tak tahu terima kasih dengan menolak rencana pernikahan ibu. Kemarin aku terus terusan mengulur waktu pernikahanku dengan Ning Sa’adah. Putra Kyai Rijal Abdullah, adik Bapak. Perjodohan yang akan mengembalikan tampuk kepengasuhan pesantren pada bani Abdullah. Aku tahu, ibu dan juga kakek tentu sudah tahu kenapa aku tak segera merampungkan quranku. Aku memang mengulur waktu perjodohan itu. Karena aku punya Tiara. Dia bukan apa-apa. Tapi aku kadung mencinta. Oh, ibu, kakek, masalah itu belum selesai kini kenapa engkau tambah membuatku semakin keruh?
***
Aku akan segera menikah. Sebagai anak yang berbakti, apalagi yang menjadi kepuasan lahir batin jika bukan membuat hati orang tua menjadi bahagia? Aku tak kuasa mendengar abah berkata-kata yang membuat semakin lara. Aku ambruk dan semakin teruk jika membiarkan diri sendiri termakan janji yang sebenarnya tak pernah diwajibkan agama. Mewajibkan suatu yang tak wajib adalah dosa. Tapi sebelumnya, aku harus bertanya untuk yang terakhir kali pada Nashir. Relakah ia pada pernikahan ini.
----------------
Dan pada akhirnya aku mengangguk. Hari itu tangis ibu begitu suntuk dan aku tak mengharap hal yang sama terulang untuk yang lebih dahsyat. Aku menyatakan iya untuk pertanyaan yang lebih mirip sebuah hibaan itu. Kali ini aku ingin membuatmu tersenyum, Bu. Setelah banyak kali aku menjadi mendung bagi hari-harimu.
----------------
“Pernikahan jadi dilangsungkan. Dan kini aku tak begitu kawatir lagi, Jo. Semua akan baik-baik saja,”
“Kok bisa, Kang Tohir?”
“Karena setelah pernikahan Gus Nashir dengan Ning Sa’adah, beliaulah yang kemudian akan menjadi pengasuh. Almaghfurlah tak akan kecewa melihatku. Salah satu saksi penanda tanganan wasiat. Pesantren akan tetap diasuh oleh Bani Abdullah,”
“Lha terus Ustadz Saiful?”
“Beliau dan Bu Nyai akan mengasuh pondok putri. Dan pengasuh utama tetap Gus Nashir. Beres tho, Jo?”
“Beres, Kang Tohir!”
***
Setelah pernikahan Gus Nashir dan Ning Sa’adah, pesantren Al-Rahmah kembali mengalir tenang. Gejolak telah habis bersama hikmah yang dapat diambil setiap insan yang bergelut dengan praduga. Emosi yang mengedepan memang membunuh akal sehat. Dan sebulan kemudian, giliran Bu Nyai menikah dengan Ustadz Saiful. Pada hari itu tak satupun merasa berat menyaksikan mereka bersanding. Karena seolah-olah mereka melihat pesona Kyai Abas menguar dari aura Ustadz Saiful. Mereka takjub.
***
Pernikahan berlangsung tanpa gejolak. Tepat seperti pertanda dalam mimpi itu. Sehabis mendung, ada cahaya terang memancar dari balik gunung. Allah, engkaulah Sang Agung. Istikhorohku sungguh kau jawab dengan anggun. Aku bisa membendung segala tangis dan kesah Nila, putri kesayanganku. Dan aku juga bisa mengembalikan Nashir pada jalannya menuntut ilmu dan takdir pengabdiannya pada agama. Untuk selanjutnya, biarkan aku memeluk-Mu dengan khusuk. Biarkan aku istirah dari bising dunia yang penuh emosi dan semakin tak menghiraukan hati nurani dan akal sehat ini gusti. Ijinkan aku mencium kaki-Mu. Lalu izinkan aku menemui Kyai Abas. Ia sepertinya memanggilku. Kulihat tangannya telah merentang untuk memelukku. Dan aku akan segera berbisik padanya bahwa amanat yang belum sempat ia wasiatkan dulu, kini telah aku lakukan. Nila telah menikah lagi. Ashadualla ilaha illallah wa ashadu anna muhammadar-rosulullah….
Kotagede, 15/01 – 03/02/07
bukan cerita tv
; jhony AF

seperti terlempar ke masa lalu
saat rumputan masih hijau
di bawah rumah panggung yang rimbun
reriuh seribu masalah di atasnya
yang belum tercium

dan ketika air kali membuat becek jalanan
menuju surau
dan cerita hantu menjelang petang
membuat enggan beranjak dari pembaringan
tak hendak diri mengaji meski belum ada tv
yang begitu memenjara mata dan hati

mulutmu memahat arca candi
relief hidup yang tak terlupa
ada mawar ada carun yang kesemua-mua
sangat santun mengalir hanyutkan diri di kali belajar
dari mulutmu kawan dari hati

jangan henti memahat, kawan
jangan henti
sebelum aku kembali ke penjara, kawan
ke dalam kotak tv

25 nov 2007

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia