Friday, September 5, 2008

ibadah dobel

siang yang gerah. dan tentu saja haus. sebab ia sedang puasa, namanya pak dhe. jangan salah, ia belum jadi bapak-bapak. dia juga tidak ada hubungan keluarga dengan saya. tapi hubungan teman iya.
sehabis ngaji kitab di masjid ia datang pada saya di kamar saya dengan wajah ceria.
"aku barusan dapat pahala dobel," katanya bersemangat.
saya diam saja menunggu kelanjutan ceritanya. biasanya orang dengan muka cerah seperti ini tak perlu di tanya akan dengan senang hati menjelaskan. saya hanya mengerutkan dahi tanda penasaran.
"sebab aku tadi tidur waktu ngaji,"
kembali saya mengerutkan dahi.
"iya, sebab tidurnya orang puasa itu ibadah,"
untuk kesekian kalinya dahi saya berkerut.
"iya, sebab ngaji itu ibadah jadi aku dapat satu pahala. lalu ditambah aku tidur dapat satu pahala, jadi sekali merengkuh bantal dua pahala tergenggam tangan,"
dia merenges puas. dan perlahan saya saksikan dengan dahi berkerut, dalam waktu sekejap ia tidur lagi dengan kitab terbuka di depannya
berarti ia sekarang dapat empat... ckckck....

Tuesday, September 2, 2008

malam sastra 1000 bulan

habis tarwih, tanggal 21 september 2008 di TBY
ada acara yang sayang kalau dilewatkan
'malam 1000 bulan'
dalam acara ini akan membaca puisi 6 penyair dan 1 cerpenis.
diantaranya adalah zaki zarung...
mampirlah teman-teman...

Tuesday, August 26, 2008

marhaban ya ramadhan

lirik & syair : zaki zarung
arr: joni adi fitra

bulan ramadhan sebentar lagi tiba
kita sambut dengan gembira
membasuh jiwa sucikan hati
kita langkah menuju fitri

chorus:
persiapkan diri
gapai ridlo ilahi

bulan ramadhan sebentar lagi tiba
kita sambut dengan gembira
membasuh jiwa sucikan hati
kita langkah menuju fitri


reff:
marhaban ya ramadhan
marhaban ya ramadhan
marhaban ya ramadhan
marhaban
2 x

persiapkan diri
menuju fitri


(pertama kali dipentaskan di pendopo LKiS Sorowajan dua tahun lalu)

Saturday, August 23, 2008

bohong...


sore...

Sore yang agak mendung. Salon yang agak sepi. Dan tukang cukur yang agak bingung dengan permintaanku.
”Plontos?” mukanya mengkerut.
”Ya, dihabisin saja,” kataku dengan serius.
”Yang bener, Mas?”
“Ya, beneran,”
“berarti gundul?”
“terserah, yang penting habis rambutnya,”
”tapi,...”
”apa? Jelek, ya?”
”emm...,”
“ok, saya minta cukur patah hati,”
“o….,”
Tukang cukur itu tidak lagi bertanya padaku. Dengan alatnya yang berdesing ia mulai menghabisi. Rupanya perlu kebohongan untuk meyakinkan orang.

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia