pada suatu hujan
aku merindukan kemarau
seperti halnya kilat dan halilintar
akulah tanah pecah dan hutan terbakar
maka jika air membasahi bumi
hendak ke mana selain pergi
jika ditanya kenapa aku bersedih
maka kujawab sebab matahari enggan merekah
di negeri yang sedang hujan
aku kekeringan
sanggarkidulmbale, 21 november 2013
Wednesday, November 20, 2013
Saturday, August 10, 2013
LEBARAN
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1434 H.
Minal 'Aidin Wal Faizin.
Mohon Maaf Lahir Batin.
I Luv U...
Minal 'Aidin Wal Faizin.
Mohon Maaf Lahir Batin.
I Luv U...
Thursday, April 18, 2013
SK Tunjangan Fungsional (Sertifikasi Guru) 2013
Bagi yang mau melihat SK Tunjangan Fungsional (Sertifikasi Guru) tahun 2013, bisa klik di sini. Atau langsung ke http://116.66.201.163:8000/index.php atau ke http://223.27.144.198:8000/
Data dari link di atas tidak bisa dijadikan pedoman pengambilan tunjangan. karena dasar yang paling valid adalah SK tertulis dr Dinas terkait.
Semoga bermanfaat. Amien.
Berikut contoh data di alamat di atas.
Data dari link di atas tidak bisa dijadikan pedoman pengambilan tunjangan. karena dasar yang paling valid adalah SK tertulis dr Dinas terkait.
Semoga bermanfaat. Amien.
Berikut contoh data di alamat di atas.
Tuesday, March 26, 2013
kupilih diam
: eM
beberapa waktu lalu ihtiar aku ketuk pintu
engkau sibak tirai jendela ragu-ragu
aku tersenyum padamu
ikhbar bahwa niatku baik bertamu
perlahan kau buka pintu, masih ragu-ragu
di ruang tamu aku bicara kau simak dengan seksama
lalu aku diam kau gantian tadarus kata-kata
aku memasang telinga
; dan hatiku tentu saja
tiba-tiba kita sudah ribuan tahun seolah saling mushafahah cengkrama
kisah kita berkelit kelindan berpeluk dalam walimah cerita
lalu, kau hidangkan secawan senyum di atas meja
pertanda kau jabat akad hatiku dengan mesra
aku tenggelam di dalamnya tak hendak beranjak kemana
seperti bayi yang nyaman di peluk gendongan
seperti anak berkecipak di genang sisa hujan
namun seperti halnya kilat, ia terlihat hanya cukup sekejap
sehabis halaqoh cengkrama menahun kita
endap rasa tiba-tiba harus tersapu bersih
oleh hujan istikhoroh yang banjir air mata, api, dan sedih
seketika cawanku telah hilang senyuman
lalu aku tenggelam di kubang sisa pembuangan
tak pulang juga tak tinggal singgah dengan nyaman
namun, siapa hendak mendawamkan sujud pada sajadah perih
beranjak dan pergi bukan pula menghilangkan nyeri
tetapi hanya mengulur jarak untuk melihat kepedihan kembali
maka kupilih diam
tidak berpaling juga tidak mengulang
kutawakalkan pada sang Waktu biarlah yang menggiring
jika hari telah sepakat senja, biarlah gelap yang akan tiba
jika hari telah sepakat pagi, pastilah mentari bersinar kembali
matapena, 26 maret 2013
beberapa waktu lalu ihtiar aku ketuk pintu
engkau sibak tirai jendela ragu-ragu
aku tersenyum padamu
ikhbar bahwa niatku baik bertamu
perlahan kau buka pintu, masih ragu-ragu
di ruang tamu aku bicara kau simak dengan seksama
lalu aku diam kau gantian tadarus kata-kata
aku memasang telinga
; dan hatiku tentu saja
tiba-tiba kita sudah ribuan tahun seolah saling mushafahah cengkrama
kisah kita berkelit kelindan berpeluk dalam walimah cerita
lalu, kau hidangkan secawan senyum di atas meja
pertanda kau jabat akad hatiku dengan mesra
aku tenggelam di dalamnya tak hendak beranjak kemana
seperti bayi yang nyaman di peluk gendongan
seperti anak berkecipak di genang sisa hujan
namun seperti halnya kilat, ia terlihat hanya cukup sekejap
sehabis halaqoh cengkrama menahun kita
endap rasa tiba-tiba harus tersapu bersih
oleh hujan istikhoroh yang banjir air mata, api, dan sedih
seketika cawanku telah hilang senyuman
lalu aku tenggelam di kubang sisa pembuangan
tak pulang juga tak tinggal singgah dengan nyaman
namun, siapa hendak mendawamkan sujud pada sajadah perih
beranjak dan pergi bukan pula menghilangkan nyeri
tetapi hanya mengulur jarak untuk melihat kepedihan kembali
maka kupilih diam
tidak berpaling juga tidak mengulang
kutawakalkan pada sang Waktu biarlah yang menggiring
jika hari telah sepakat senja, biarlah gelap yang akan tiba
jika hari telah sepakat pagi, pastilah mentari bersinar kembali
matapena, 26 maret 2013
Tuesday, March 19, 2013
IBU
ibu, maafkan anakmu
hingga senja usiamu merapat
belum juga sempat kusunting melati
di selip daun telingamu yang wangi
padahal aku tahu engkau sungguh mengingini
mungkin katamu benar
aku rapuh ihtiar
terlalu sering gentar
mungkin katamu tepat
aku belum sungguh mendekat
taqorrub Penguasa Jagad
ibu, maafkan anakmu
meski sudah aku melangkah
jalanku masih kabut ragu yang penuh
meski doaku berdarah-darah
hijab maksiat seolah tak jengah
ibu, maafkan anakmu
meski engkau letih
kuyakin samudera dalam dadamu
masih nyaman menampung resah
ijinkan untuk tenggelam berbasah-basah
bantul, 19 maret 2013
hingga senja usiamu merapat
belum juga sempat kusunting melati
di selip daun telingamu yang wangi
padahal aku tahu engkau sungguh mengingini
mungkin katamu benar
aku rapuh ihtiar
terlalu sering gentar
mungkin katamu tepat
aku belum sungguh mendekat
taqorrub Penguasa Jagad
ibu, maafkan anakmu
meski sudah aku melangkah
jalanku masih kabut ragu yang penuh
meski doaku berdarah-darah
hijab maksiat seolah tak jengah
ibu, maafkan anakmu
meski engkau letih
kuyakin samudera dalam dadamu
masih nyaman menampung resah
ijinkan untuk tenggelam berbasah-basah
bantul, 19 maret 2013
Subscribe to:
Posts (Atom)
Ingsun
- sorogan
- mbantul, jogjakarta, Indonesia
