Thursday, January 29, 2009

Anggota Dewan Amakezuuq

Amakezuuq menggencet gas mobil volvonya dalam-dalam. Ia tak memperdulikan lagi apa-apa yang ada di depannya. Ia laju mobilnya dengan kecepatan maksimal. Presss-presss-presss. Semua yang kebetulan berada di depannya remuk ditubruk. Mobil-mobil yang lalu lalang ringsek ditabrak. Rombongan rakyat pejalan kaki biasa, para mahasiswa yang sedang berdemo, para buruh kecil yang sedang bekerja, bahkan teman sendiri yang ia tak sadari, dan semua yang menghalangi jalan mobilnya hancur habis dilibas, luluh lantah rata dengan aspal. Jalan berubah menjadi semacam aliran sungai yang panjang. Rongsok-rongsok mobil seolah menjadi batuan sungai. Bangkai-bangkai manusia menjadi makanan ikan. Darah yang muncrat membanjir menjadi aliran airnya. Sedang Amakezuuq sendiri menjadi ikannya tentu.
"Mounthesmouny harus segera tahu apa yang aku bakal kabarkan padanya sebagai oleh-oleh pulang kerjaku. Harus tahu!" Amakezuuq menyeringai dan kelihatanlah gigi-gignya yang tajam selayak gigi-gigi piranha. Tertawa.
Siang memang begitu panas. Pun Amakezuuq tak mempedulikan terik yang menyengat, sebab memang ia berada di dalam mobil full AC, jadi tak perlu risau kepanasan. Apalagi, ia tampak gembira sekali karena membawa berita yang bakal membuat istrinya menjadi lebih bangga lagi padanya. Sehingga mengepullah semangat Amakezuuq seperti aspal yang terpanggang matahari. Ia segera ingin melihat wajah istrinya yang pasti bakalan ceria setengah mati. Dengan sigap ia putar sendiri kendali sopir dengan gesit. Ia memang menyopiri sendiri mobilnya. Ia tak begitu percaya dengan orang lain. Pernah suatu kali ia punya sopir pribadi. Dan gara-gara sopir itu, hampir saja ia dipecat istrinya gara-gara selingkuh dan bermain cinta dengan seorang ABG di dalam mobil itu. Sopir itu, saking jujurnya tak mau disuap seperti kebanyakan sopir yang lain. Malah ia bocorkan rahasia Amakezuuq pada istrinya. Walhasil hampir ia dipecat istrinya. Bukannya ia takut kehilangan istrinya, tapi ia takut jabatannya dikepartaian menjadi goyah. Mau tak mau ayah istrinya adalah salah satu pendiri partai, sesepuh partai yang masih diakui sabdanya. Jadilah Amakezuuq takut dengan Mounthesmouny, istri tercintanya. Dan untuk kali ini ia benar-benar akan memberi kejutan luar biasa pada istrinya itu. Harapannya tak muluk, ia akan semakin disayang istrinya dan kedudukannya semakin mantap. Dengan sigap Amakezuuq menghentak-hentakkan gas dan membuat aliran sungai semakin panjang dan amis.
***
Satu tahun terakhir ini Amakezuuq telah menjadi anggota dewan. Ia menjadi wakil dari beratus-ratus jiwa rakyat lain yang tak sempat mewakili diri mereka sendiri di negri Brencweichxini. Negeri dengan keindahan alam yang luar biasa namun sayang tak terurus dengan baik karena konflik politik yang berkepanjangan. Sebenarnya ada juga yang menyempatkan diri mengurusnya, namun itu pun hanya segelintir orang dan hasilnya pun hanya mereka sendiri yang memakannya. Dan kebanyakan yang lain hanya mampu mendengar dongengnya saja, tentang kekayaan negeri yang tak tahu raib ke mana. Dan Amakezuuq adalah salah satu yang memperhatikan masalah tersebut. Dan tentu saja ia juga yang merasakan, mencicipinya bahkan melahapnya. Selama itu pula banyak sekali perubahan terjadi pada dari Amakezuuq mulai dari finansialnya yang semakin menumpuk sampai kedudukannya yang menanjak. Para bawahannya semakin merasa segan padanya. Semakin takut. Mungkin mereka takut tak dapat bunus dari atasannya itu, atau paling tidak dapat pujian darinya. Rambutnya yang dulu tebal ikal menawan kini bertambah semakin tipis dan rontok. Ia terlalu serius memikirkan rakyat, barangkali. Kepalanya menjadi sangat besar dan sangat keras. Badannya yang dulu atletis sekarang tampak tambah gendut dan perutnya tambah buncit. Oh, tampak ganteng sekali. Gadis-gadis ABG banyak yang menyukainya. Bahkan banyak artis yang tergila-gila padanya. Mereka bersedia untuk dijadikan istrinya yang keberapa pun. Baik resmi, tak begitu resmi maupun tak resmi sekali. Kabarnya kalau menjadi istrinya, dari semua kategori di atas, maka ia akan tercukupi kebutuhannya sampai tujuh turunan. Dan kabarnya yang lain pula, banyak sudah yang menjadi istrinya. Tentu tanpa sepengetahuan istri tercintanya, Mounthesmouny yang terkasih.
Memang pantas kalau Amakezuuq menjadi idola, sebab ia memang tampak gagah dengan stelan jas buatan negeri seberang jauh. Apalagi kakau pas ia keluar dari mobil-mobil mewahnya yang lain yang jumlahnya tak cukup dihitung dengan jari. Tapi ada satu hal yang mengganjal dalam hatinya terutama bila berhadapan dengan istrinya. Ia menyimpan suatu rahasia besar. Tentang keadaan dirinya. Ia takut istrinya mengetahui. Bukan masalah tentang istri-istrinya yang lain, namun ini menyangkut keadaan fisiknya. Dan mau tak mau ia harus memberi tahu, sebab istrinya masih sering meminta jatah bercinta padanya. Kalau ia menolaknya, pastilah istrinya itu akan marah, namun kalau tidak ditolak, rahasianya itu akan segera terbongkar. Dan ia sangat takut hal itu terjadi, ia akan dipensiun. Dan akhirnya diputuskan olehnya untuk mengatakan yang sesungguhnya. Pada suatu malam sebelum bercinta.
"Mounthesmouny, istriku tercinta dan tersayang seluruh dunia, aku ingin bicara," ucap Amakezuuq pada istrinya di atas ranjang. Masih dengan piyama lengkap. Belum dicopoti.
"Silahkan saja, Amakezuuq terseksi," Mounthesmouny mulai membuka kancing baju tidurnya satu demi satu sembari bergenit-genit mencoba menggoda Amakezuuq. Dengan ragu-ragu Amakezuuq menguatkan hati menarik nafas dalam-dalam dan berkata.
"Aku jadi seperti sundel bolong," Amakezuuq tampak gugup dan berkeringat.
"Maksudmu?" seru Mounthesmouny tak begitu memprhatikan. Ia meliuk-liukkan tubuhnya yang tinggal berpakaian dalam dan tampak masih mulus karena perawatannya yang super extra ketat. Maklum banyak dana.
"Lihatlah dadaku," ucap Amakezuuq lirih penuh ragu dan takut. Keringat dingin terus mengucur. Dengan perlahan ia buka piyamanya.
"Bolong?!!" Mounthesmouny terperangah hebat menyaksikan dada suaminya yang bolong sampai tembus. Lubang itu berdiameter satu kepalan tangan. Bila melihat Amakezuuq telanjang dada, maka akan dapat dilihatlah apa-apa yang ada di belakangnya. Perlahan Mounthesmouny menghampiri Amakezuuq yang terduduk di atas tempat tidur dengan gugup. Ia amati dada suaminya itu. Sontak ia pun tertawa.
"Menakjubkan!" seru Mounthesmouny tak terduga. Lalu ia ciumi suaminya itu dari ujung rambut sampai ujung kaki. Amakezuuq menjadi sangat tak mengerti. Ia sungguh tak mengerti kenapa justru istrinya sangat senang melihat dadanya yang bolong itu.
"Maksudmu apa?" tanya Amakezuuq heran.
"Itu berarti kita akan cepat lebih kaya lagi," dan terus Mounthesmouny semakin termakan birahi, segera ia hempaskan tubuh suaminya itu ke atas tempat tidur. Namun suaminya masih kebingungan.
"Maksudmu?" tanya Amakezuuq lagi.
"Maksudku?" kata Mounthesmouny.
"Ya, maksudmu?" tegas Amakezuuq. Lalu perlahan Mounthesmouny menghentikan serangannya.
"Kamu akan tahu sendiri nanti setelah beberapa kali bersidang," ditubruk lagi tubuh tambun suaminya itu. Kebingungan Amakezuuq belum hilang sepenuhnya, namun segara ia simpan pertanyaan-pertanyaan yang lainnya karena ada jawaban di depannya, ya, tubuh istrinya. Segeralah mereka bergumul seperti layaknya suami dan istri normal.
Benar-benar di luar dugaan, istrinya berkomentar jauh dari apa yang ia kawatirkan sebelumnya. Mounthesmouny justru tampak takjub dan gembira, melihat perubahan pada dirinya. Sejak saat itu Amakezuuq tampak lebih percaya diri. Ia semakin yakin keadaanya akan membuahkan suatu yang luar biasa. Jadilah ia tak sungkan lagi membicarakan hal itu pada rekan-rekannya yang lain. Ia berharap teman-temannya akan terkesima pula pada dirinya dan mengagumi atau bahkan mengelu-elukannya.
Pada persidangan kesekian kali, Amakezuuq sungguh dikejutkan oleh ulah teman-temannya yang terus-menerus mendesaknya untuk mengatakan cara dia supaya bisa berlubang di dada tersebut. Tentu saja ia mengatakan yang menjadi rahasianya tersebut. Tapi rahasia yang entah bagaimana, hanya mereka yang tahu.
Seperti yang dikatakan Mounthesmouny pada Amakezuuq tempo waktu, keajaiban yang terjadi akibat dirinya yang pertama adalah, secara tak disangka teman-temannya meniru dirinya. Semua bersidang dengan dada bolong. Hal itu diketahui karena mereka bersidang dengan keadaan telanjang dada.
"Terima kasih atas rahasiannya, kau pantas mendapat penghargaan dari fraksimu," seorang teman dari fraksi lain yang juga sealiran dengan fraksinya menyambut gembira atas keadaan yang terjadi.
Sebenarnya ada juga beberapa anggota dewan yang lain yang tak setuju dengan situasi dan kondisi yang terjadi. Namun jumlah mereka hanya sedikit. Hanya beberapa orang saja. Akhirnya mereka hanya diam. Seperti tak punya hak bicara. Kalau yang lain ngomong, baru mereka ikutan ngomong. Kalau yang lain tertawa mereka ikut tertawa. Meski ngomong mereka beda, meski tertawa mereka beda, tapi tak ada yang menggubris mereka. Mereka seperti angin lalu meski yang diomongkan badai. Seumpama ada yang komentar, paling-paling hanya dengan nada mengejek atau lebih parah lagi dengan nada membunuh. Akhirnya mereka akan walk-out dan suara mereka, yang dianggap sumbang oleh sebagian yang lain, meski sebenarnya merdu, akan segera lenyap tak terdengar lagi. Suara lebih dari puluhan ribu umat yang tersisih. Terbuang ke tempat sampah.
Menjadi suatu yang aneh dan mengherankan memang pada awal kemunculan Amakezuuq dengan dada bolongnya. Namun lama-kelamaan jadi suatu hal yang jamak dan segera meluas. Biasa. Tak pantas disebut antik atau menakjubkan. Karena disamping semua anggota dewan telah berdada bolong, ternyata disusul pula dengan dada para petinggi di negeri Brencweichx. Presiden negeri itu, yang semula dadanya bagus menawan sekarang menjadi bolong pula di dada sebelah kirinya. Seperti penyakit menular, mewabahlah peristiwa bolong di dada sebelah kiri menjangkiti tiap-tiap komponen bangsa. Meski ada pula yang tidak, dan itu sangat sedikit. Tak berarti apa-apa. Yang mayoritas adalah mereka yang bolong di dada sebelah kirinya dengan diameter sebesar kepalan tangan. Bagi mereka yang tak mengikuti tren ini harus berani malu dan dibilang kuno. Karena mereka sangat sedikit dan tak berarti apa-apa bahkan mereka bisa disebut suku terasing sangat ortodok.
Belakangan Amakezuuq jadi tahu kenapa istrinya senang dengan keadaan dirinya. Dulu, sewaktu ayahnya masih jadi anggota dewan, beliau juga pernah mengalami hal yang sama, dada sebelah kirinya bolong. Setelah itu keadaan keluarganya berubah. Mereka menjadi terus bertambah kaya saja. Benyak sekali orang yang menyumbang, banyak sekali kebijakan yang dikeluarkan menyangkut kesejahteraan bagi mereka semakin saja meningkat tajam. Setelah tahu bahwa ternyata dulu keadaan ini pernah terjadi, Amakezuuq menjadi tak bangga lagi. Ia ingin sensasi yang lebih menggigit. Ia ingin menjadi antik lagi dengan gaya baru. Agar semakin dicintai sama istrinya yang kata istrinya akan menjadikannya kaya. Segala cara ia upayakan. Dan hasilnya inilah yang akan segera diperlihatkan pada istri tercintanya, Mounthesmouny tersayang. Ia ingin cepat-cepat pulang dan memperlihatkan keantikannya yang lain, yang baru saja diperolehnya pada Mounthesmouny.
Tak lama setelah melewati jalan yang telah ia rubah menjadi sungai itu, sampai juga ia di rumahnya. Mounthesmouny sudah menunggu kedatangannya di ruang tengah.
"Surprize!" seru Amakezuuq sembari membuka pintu dan langsung menghambur memeluk istrinya. Waktu itu Amakezuuq masih menggunakan penutup kepala ala pendaki gunung.
"Ada apa? Suami tercintaku?" Mounthesmouny tampak keheranan melihat gelagat suaminya yang mencurigakan yang lain dari biasanya.
"Ini!" Amakezuuq membuka penutup kepalanya. Mounthesmouny terperanjat takjub.
"Alangkah dahsyatnya, suamiku. Engkau benar-benar suamiku. Engkau akan lebih cepat kaya dengan mudah," Mounthesmouny tertawa bangga sekaligus bahagia sekali. Ia merasa sangat senang dengan kedaan suaminya tersebut.
"Bakal arisan terus aku," seru Mounthesmouny dalam hati.
"Tapi kenapa tadi harus kamu tutupi?" tanya Mounthesmouny.
"Aku takut ketahuan tetangga," jawab Amakezuuq lugu.
"Tak usah takut, nanti lama-lama juga mereka akan tahu. Yang penting kita bisa lebih kaya dengan cepat," bimbing Mounthesmouny. Amakezuuq menjadi lebih percaya diri.
Tubuh tanpa kepala? Busyet. Kini Amakezuuq harus kehilangan kepala satu-satunya. Berhasil ia buat keanehan lagi. Namun tampaknya masih ada sedikit keunikan lagi. Ternyata masih ada bagian dari kepalanya yang tidak turut hilang. Masih ada dua buah bola mata dan mulut dengan gigi yang kuning dan bau. Bola matanya berkilau merah amarah. Bila terbentur sesuatu bidang, semisal dinding, sorot itu akan menggambarkan tumpukan uang. Seperti sorot sinema. Tiap yang ditatap akan sengsara hidupnya, tentu bila memandang yang tak ia sukai. Bila berbicara dengan orang itu, ia akan membuatnya merana. Amakezuuq girang sekali. Apalagi tatkala sidang, taman-temannya terkagum-kagum dan akhirnya mereka menirunya. Tentu dengan rahasia yang tidak boleh diketahui oleh pihak lain. Hanya khusus yang sealiran dengan pendapatnya.
Keadaan ini berlangsung terus menerus dan selalu ada yang baru dari Amakezuuq. Perkembangannya sangat cepat. Dan yang paling merasa bahagia adalah istrinya, Mounthesmouny. Setiap pulang sidang, ia selalu diberi oleh-oleh yang antik dari Amakezuuq. Setelah kepalanya hilang, biji matanya yang masih tertinggal itu berangsur ikut meleleh satu persatu. Lalu disusul mulut baunya. Tak sampai di situ. Pada sidang selanjutnya ia pulang dengan tangannya yang raib. Disusul perutnya buncitnya. Lalu kakinya hilang lebih dulu. Tinggal satu organ yang tertinggal tak ikut menghilang. Amakezuuq bersidang dengan organ itu. Mounthesmouny meloncat-loncat bangga. Bahagia. Ia kini punya suami yang luar biasa antik. Suami yang akan membuatnya lebih kaya. Suami yang tinggal batang dzakarnya.

Kotagede

1 comment:

Nafi said...

Pax itu bkn cerpen,tpi cerita panjang!

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia