Saturday, June 6, 2009

Suhar; Catatan Santri Anyar

Aku tersentak. Monyet itu tiba-tiba melayang dengan sigap meluncur ke arahku tepat. Pekik seringai monyet itu melengking dahsyat. Tak sempat aku mengelak. Dalam sekian detik tubuhku terhentak ke tanah yang daunan di atasnya berserak.

Oleh sebab tubuhku kurus tak berlemak, aku lunglai dadaku sesak. Beradu dengan tanah keras membuat jantung hampir berhenti berdetak. Dalam jarak yang teramat sempit mataku matanya kembali bertemu. Bulat coklat. Sipit kornea hitamnya pucat. Seperti tak ada hidup dan harap. Aneh, ia diam saja sedari berada di atas dada. Hanya kepalan tangannya hendak menyepak kepala.

Tak ada hembus nafas. Tak ada bau yang khas. Dan ketika ku angkat badan, monyet itu tergeletak begitu saja di atas daunan. Dengan badan yang kaku teramat kaku.

Aneh, bisikku. Setelah detak dada teramat kencangnya, kini bulu tubuhku merinding. Kepalaku pening. Dan ketika kuusap bagian belakang. Telapak tangan sudah berlinang merah darah yang amis dan membuatku pingsan. Sekian detik sebelum aku pingsan, kulihat keanehan lain, sebuah percik api di tubuh monyet bagian belakang. Dan di sana terjulur seutas kabel yang nampak lentur.

Aku pingsan…

2 comments:

dian anggrahini pertiwi said...

suka kang. syg kurang panjang

sorogan said...

makasi, dian... kapan2 sy sambunG lagi... doakan ya...

Ingsun

mbantul, jogjakarta, Indonesia